Mahasiswa Fakultas Dakwah Insuri Ponorogo siap Dampingi Desa

Lintas Daerah
Spread the love

Ponorogo l Transindonews.com – Dekan Fakultas Dakwah IAI Sunan Giri Ponorogo Agus Setiawan, M.Si mengingatkan para mahasiswanya akan pentingnya bersiap menghadapi gelombang revolusi industri 4.0. Salah satunya adalah kembali ke Desa.

“Mahasiswa adalah bagian pemuda yang harus berperan aktif dalam kegiatan pemberdayaan di desanya masing-masing” ucap Agus saat membuka dialog pemberdayaan di aula IAI Sunan Giri Ponorogo yang digelar DEMA Fakultas Dakwah, Jumat (30/10).

Moderator Doni Prastiawan dalam pengantarnya menjelaskan, dialog tersebut dilakukan untuk memperkaya pemahaman mahasiswa tentang UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa.

“Sebagai mahasiswa Fakultas Dakwah, kita (anggota DEMA, Red) perlu memperkaya strategi dakwah dengan ramuan pemberdayaan masyarakat desa,” ulasnya.

Usai pembuka, Agus kembali tampil sebagai keynote speaker.

Agus juga menyebut, desa berdaulat adalah desa yang mampu mengembangkan potensinya dalam menghadapi era 4.0.

“Desa kita perlu sentuhan dunia akademik di era 4.0 ini. Selaku pemuda mahasiswa harus bergerak kembali ke desa,” imbuhnya.

DEMA IAIN serius menyimak sosialisasi UU Desa
DEMA IAIN serius menyimak sosialisasi UU Desa
Dialog terasa hangat dengan hadirnya Novi Tri Hartanto, ST aktivis yang telah lama malang melintang di dunia pemberdayaan masyarakat desa juga selaku Koordinator Pendamping Desa Ponorogo. Ketua LPBI NU Ponorogo ini mengusulkan mahasiswa membuat program pemberdayaan dengan menggandeng masyarakat desa.

Saat ini, sebutnya, kearifan lokal masyarakat desa harus diberdayakan agar menghasilkan nilai ekonomis, di samping menjaga kelestariannya.

“Sampai saat ini gotong royong masih melekat di masyarakat desa. Kearifan lokal banyak terhimpun dalam semangat gotong royong mereka (masyarakat desa, Red),” terang Novi

Masih menurut Novi, masyarakat desa belum tentu mampu mengelola potensi gotong royong tanpa ada sentuhan dunia akademis.

“Mahasiswa sebagai agen of change harus menangkap peluang kearifan lokal di desa untuk menjadi laboratorium pengembangan masyarakat,” pungkasnya menyimpulkan.(Habib)

(Red dari berbagai sumber)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments